Kamis, 12 Juni 2014

I Used To Be Your soulmate (Part 1)

“Nik, Niken….ada yang nyari tuh di depan kelas.”
Suara itu membuyarkan lamunannya. Dia pun perlahan mendongakkan kepalanya, untuk melihat siapa yang tadi berbicara. Ternyata Mira, teman sekelasnya, tengah berdiri di samping mejanya.
“Siapa, Ra?” Tanyanya pelan.
“Entahlah! Yang jelas dia cowo. Ganteng pula.” Jawan Mira bersemangat.
“Udah sana samperin! Kalo kelamaan, ntar dia keburu pergi lho.” Mira menyambung ucapannya.
Dengan gontai, gadis bernama Niken itu pun melangkahkan kakinya keluar kelas. Dia tertegun sejenak, saat didapatinya tidak ada siapa-siapa disana. Mira ngerjain nih! Gerutunya dalam hati. Pandangannya kembali menyapu semua sudut, berusaha mencari orang yang dimaksud oleh Mira. Tapi nihil! Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke dalam kelasnya.
“Nik….”
Belum sempat dia beranjak, dari arah belakang tiba-tiba ada seseorang dengan suara berat memanggilnya. Niken pun membalikkan badannya. Kini, dia dapat melihat dengan jelas wajah orang itu.
“Ra-dit…” Ucapnya terbata.
Niken masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Berkali-kali dia mengedipkan mata, Seolah ingin meyakinkan dirinya kalau itu bukan mimpi. Sekilas terpancar binar keceriaan dari bola matanya, saat dia sadar kalau itu bukan mimpi.
“Hai, dit. Apa kabar?” Sapanya hati-hati.
“Aku sehat, Nik. Kamu gimana, udah baikan?” Balas Radit cepat.
“Baikan? Mak-sud-nya?” Tanya Niken kebingungan.
“Mmm…kita lanjut ngobrol di kantin aja gimana?”
Mendengar ajakan Radit, dada Niken berdetak semakin tak beraturan. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengiyakan ajakan itu.
                                                                *****
“Oh, jadi waktu kamu pulang ke Jogja, kamu ketemu mamah?”
Radit mengangguk, sambil terus melahap mie ayam yang dipesannya. Sedang Niken hanya mengaduk-aduk jus sirsaknya, sambil terus memandangi Radit.
“Emang mamah cerita apa aja, sampe kamu bela-belain datang kesini?”
“Tante bilang, kamu sakit. Makanya hari ini aku bolos kuliah, demi ketemu kamu.”
“Kamu kesini karena disuruh mamah?” Niken menyelidik.
Namun Radit hanya mampu membuang pandangannya ke luar kantin. Mencoba menghindar dari pertanyaan Niken tadi.
“Aku tau…kamu ga mungkin kesini, kalau bukan mamah yang minta.”
Niken menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan gurat kecewa yang tengah dirasanya.
“Tanpa Tante minta pun, aku pasti akan kesini, kalau tau kamu sakit, Nik.”
“Thanks, Dit.” Jawan Niken lirih.
“Orang lain sakit aja aku pasti peduli, apalagi ini kamu, Nik, sahabatku dari kecil.”
Niken hanya mampu menelan ludah mendengar ucapan Radit. Sahabat?! Kata itu seperti batu besar yang menimpa kepalanya, lalu menyadarkannya dari sebuah mimpi. Ya, dia dan Radit kenyataannya memang hanya sahabat.
“Iya, Dit. Makasih, kamu udah care sama aku. Aku udah baikan kok.” Niken tersenyum simpul.
“Baguslah, aku jadi lega. Kalo gitu aku balik ya. Soalnya sore ini ada pertandingan basket di kampus.”
“Oh, oke. Good Luck buat pertandingannya ya.”
Thank you, Nik. Makan teratur lah, biar maag-mu itu ga kambuh-kambuh lagi.”
Niken tidak menjawab perkataan Radit barusan. Dia hanya tersenyum tanpa kata. Pandangannya terus tertuju pada Radit, sampai bayangan pemuda itu hilang di telan keramaian. Dia baru sadar, kalau ini sudah mendekati jam istirahat, pantas kantin yang tadinya sepi mendadak ramai. Dia bergegas menuju kasir, untuk membayar makanannya dan Radit.
“Neng, ada yang bersih ga uangnya, ini penuh coretan begini?” Tukas ibu kasir itu mengagetkannya.
Spontan, Niken pun mengganti uang milik Radit itu dengan uangnya. Lalu uang milik Radit dia masukkan ke dalam dompetnya. Setelah menerima kembalian, Niken pun bergegas meninggalkan kantin. Langkahnya sedikit terburu-buru menuju gedung fakultas ekonomi yang terletak jauh di belakang. Lima menit berlalu, Niken pun sampai di depan kelasnya. Kepalanya mengintip perlahan, takut kalau ada dosen yang sedang duduk di dalam kelasnya. Huff…lega. Ternyata tidak ada dosen di dalam sana. Hanya ada Mira, sang sekretaris, yang sedang mencatat di papan tulis. Dia pun melangkah dengan pasti menuju bangkunya. Sesaat berlalu, dia memicingkan matanya. Siapa itu yang sedang duduk di bangkunya? Tanyanya dalam hati. Langkahnya pun semakin dipercepat.
“Permisi…” Niken menyapa orang itu penuh tanda tanya.
“Ini tempat duduk kamu?”
“Ya.” Jawab Niken singkat.
Orang itu berdiri dari duduknya lalu mempersilakan Niken duduk. Dengan senyum misterius, orang itu berjalan ke depan, lalu duduk di kursi dosen. Damn! Niken sedikit ketar ketir melihat itu semua.
“Udah, pa.” Mira menyerahan buku yang dipegangnya kepada orang itu. Lagi-lagi Niken merasa tidak nyaman pada situasi saat itu.
“Oke, teman-teman semua. Tolong diingat, mulai hari ini jadwal Ibu Tyas, akan diisi oleh saya. Jadi jangan sampai ada yang bolos lagi ya.”
Deg. Langit gelap menyelimuti wajah Niken. Jadi orang itu adalah dosen penggantinya Bu Tyas. Niken menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
“Oh iya, sampai lupa. Nama kamu siapa?” Dosen itu menunjuk ke arah Niken.
“Sa-ya, pa?”
“iya, kamu. Yang baru saja datang. Siapa namamu?”
“Ni-ken..”
“Oke, Niken. Setelah ini tolong temui saya di ruang dosen ya.”
Niken semakin kelimpungan mendengar ucapan dosen baru itu. Sedang teman-temannya hanya diam, menatap kasihan.
“Kamu kemana aja sih, aku telpon malah kamu ga bawa hape?” Mira menghampirinya dengan tergesa-gesa.
“Ke kantin” jawab Niken jujur.
“Ya ampun, Nik. Bisa-bisanya kamu ke kantin pas jam pelajaran. Itu tadi dosen fakultas Pendidikan. Dia terkenal galak dan disiplin.” Mira semakin gemas mendengar jawaban Niken.
“Ya…mana aku tau kalau bakal ada dosen pengganti. Toh satu jam lebih kelas kita kosong. Aku pikir ya kita free untuk matkul ini.”
“Ya udah, cepet sana temuin Pa Bian. Nanti tambah marah lagi dia sama kamu.”
“Oh, namanya Pa Bian?”
“Iya, bawel! Cepet sana…!”
                                                                  *****
“Kata bu Tyas, kamu ini adalah siswa teladan di kelas. Tapi kok kelakuan kamu tadi, tidak mencerminkan bahwa kamu itu siswa teladan!”
Niken menundukkan kepala, berusaha mendengarkan ucapan Pa Bian itu.
“Maaf, Pa..tapi tadi saya…”
“Saya tidak mau mendengar alasan apapun. Sebagai hukuman, kamu tidak boleh ikut pelajaran saya di kelas kamu sendiri. Silakan kamu cari jadwal saya di kelas lain. Ada pertanyaan?”
“Tidak..” Niken lemas mendengar ucapan dosennya itu.
“Oke, saya rasa itu saja. Terimakasih.”

Tidak ada komentar: