“Nik, Niken….ada yang nyari tuh di depan kelas.”
Suara itu membuyarkan lamunannya. Dia pun perlahan
mendongakkan kepalanya, untuk melihat siapa yang tadi berbicara. Ternyata Mira,
teman sekelasnya, tengah berdiri di samping mejanya.
“Siapa, Ra?” Tanyanya pelan.
“Entahlah! Yang jelas dia cowo. Ganteng pula.” Jawan
Mira bersemangat.
“Udah sana samperin! Kalo kelamaan, ntar dia keburu
pergi lho.” Mira menyambung ucapannya.
Dengan gontai, gadis bernama Niken itu pun melangkahkan
kakinya keluar kelas. Dia tertegun sejenak, saat didapatinya tidak ada
siapa-siapa disana. Mira ngerjain nih! Gerutunya
dalam hati. Pandangannya kembali menyapu semua sudut, berusaha mencari orang
yang dimaksud oleh Mira. Tapi nihil! Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke
dalam kelasnya.
“Nik….”
Belum sempat dia beranjak, dari arah belakang
tiba-tiba ada seseorang dengan suara berat memanggilnya. Niken pun membalikkan
badannya. Kini, dia dapat melihat dengan jelas wajah orang itu.
“Ra-dit…” Ucapnya terbata.
Niken masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
sekarang. Berkali-kali dia mengedipkan mata, Seolah ingin meyakinkan dirinya
kalau itu bukan mimpi. Sekilas terpancar binar keceriaan dari bola matanya,
saat dia sadar kalau itu bukan mimpi.
“Hai, dit. Apa kabar?” Sapanya hati-hati.
“Aku sehat, Nik. Kamu gimana, udah baikan?” Balas
Radit cepat.
“Baikan? Mak-sud-nya?” Tanya Niken kebingungan.
“Mmm…kita lanjut ngobrol di kantin aja gimana?”
Mendengar ajakan Radit, dada Niken berdetak semakin
tak beraturan. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengiyakan ajakan itu.
*****
“Oh, jadi waktu kamu pulang ke Jogja, kamu ketemu
mamah?”
Radit mengangguk, sambil terus melahap mie ayam yang
dipesannya. Sedang Niken hanya mengaduk-aduk jus sirsaknya, sambil terus
memandangi Radit.
“Emang mamah cerita apa aja, sampe kamu bela-belain
datang kesini?”
“Tante bilang, kamu sakit. Makanya hari ini aku bolos
kuliah, demi ketemu kamu.”
“Kamu kesini karena disuruh mamah?” Niken menyelidik.
Namun Radit hanya mampu membuang pandangannya ke luar
kantin. Mencoba menghindar dari pertanyaan Niken tadi.
“Aku tau…kamu ga mungkin kesini, kalau bukan mamah
yang minta.”
Niken menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan gurat
kecewa yang tengah dirasanya.
“Tanpa Tante minta pun, aku pasti akan kesini, kalau
tau kamu sakit, Nik.”
“Thanks, Dit.” Jawan Niken lirih.
“Orang lain sakit aja aku pasti peduli, apalagi ini
kamu, Nik, sahabatku dari kecil.”
Niken hanya mampu menelan ludah mendengar ucapan
Radit. Sahabat?! Kata itu seperti batu besar yang menimpa kepalanya, lalu
menyadarkannya dari sebuah mimpi. Ya, dia dan Radit kenyataannya memang hanya
sahabat.
“Iya, Dit. Makasih, kamu udah care sama aku. Aku udah baikan kok.” Niken tersenyum simpul.
“Baguslah, aku jadi lega. Kalo gitu aku balik ya.
Soalnya sore ini ada pertandingan basket di kampus.”
“Oh, oke. Good
Luck buat pertandingannya ya.”
“Thank you,
Nik. Makan teratur lah, biar maag-mu
itu ga kambuh-kambuh lagi.”
Niken tidak menjawab perkataan Radit barusan. Dia
hanya tersenyum tanpa kata. Pandangannya terus tertuju pada Radit, sampai bayangan
pemuda itu hilang di telan keramaian. Dia baru sadar, kalau ini sudah mendekati jam
istirahat, pantas kantin yang tadinya sepi mendadak ramai. Dia bergegas menuju
kasir, untuk membayar makanannya dan Radit.
“Neng, ada yang bersih ga uangnya, ini penuh coretan
begini?” Tukas ibu kasir itu mengagetkannya.
Spontan, Niken pun mengganti uang milik Radit itu
dengan uangnya. Lalu uang milik Radit dia masukkan ke dalam dompetnya. Setelah
menerima kembalian, Niken pun bergegas meninggalkan kantin. Langkahnya sedikit
terburu-buru menuju gedung fakultas ekonomi yang terletak jauh di belakang.
Lima menit berlalu, Niken pun sampai di depan kelasnya. Kepalanya mengintip
perlahan, takut kalau ada dosen yang sedang duduk di dalam kelasnya. Huff…lega.
Ternyata tidak ada dosen di dalam sana. Hanya ada Mira, sang sekretaris, yang
sedang mencatat di papan tulis. Dia pun melangkah dengan pasti menuju
bangkunya. Sesaat berlalu, dia memicingkan matanya. Siapa itu yang sedang duduk di bangkunya? Tanyanya dalam hati.
Langkahnya pun semakin dipercepat.
“Permisi…” Niken menyapa orang itu penuh tanda tanya.
“Ini tempat duduk kamu?”
“Ya.” Jawab Niken singkat.
Orang itu berdiri dari duduknya lalu mempersilakan
Niken duduk. Dengan senyum misterius, orang itu berjalan ke depan, lalu duduk
di kursi dosen. Damn! Niken sedikit
ketar ketir melihat itu semua.
“Udah, pa.” Mira menyerahan buku yang dipegangnya kepada orang itu. Lagi-lagi Niken merasa tidak nyaman pada situasi saat itu.
“Oke, teman-teman semua. Tolong diingat, mulai hari
ini jadwal Ibu Tyas, akan diisi oleh saya. Jadi jangan sampai ada yang bolos
lagi ya.”
Deg. Langit gelap menyelimuti wajah Niken. Jadi orang
itu adalah dosen penggantinya Bu Tyas. Niken menggeleng-gelengkan kepala tidak
percaya.
“Oh iya, sampai lupa. Nama kamu siapa?” Dosen itu
menunjuk ke arah Niken.
“Sa-ya, pa?”
“iya, kamu. Yang baru saja datang. Siapa namamu?”
“Ni-ken..”
“Oke, Niken. Setelah ini tolong temui saya di ruang
dosen ya.”
Niken semakin kelimpungan mendengar ucapan dosen baru
itu. Sedang teman-temannya hanya diam, menatap kasihan.
“Kamu kemana aja sih, aku telpon malah kamu ga bawa
hape?” Mira menghampirinya dengan tergesa-gesa.
“Ke kantin” jawab Niken jujur.
“Ya ampun, Nik. Bisa-bisanya kamu ke kantin pas jam
pelajaran. Itu tadi dosen fakultas Pendidikan. Dia terkenal galak dan
disiplin.” Mira semakin gemas mendengar jawaban Niken.
“Ya…mana aku tau kalau bakal ada dosen pengganti. Toh
satu jam lebih kelas kita kosong. Aku pikir ya kita free untuk matkul ini.”
“Ya udah, cepet sana temuin Pa Bian. Nanti tambah
marah lagi dia sama kamu.”
“Oh, namanya Pa Bian?”
“Iya, bawel! Cepet sana…!”
*****
“Kata bu Tyas, kamu ini adalah siswa teladan di
kelas. Tapi kok kelakuan kamu tadi, tidak mencerminkan bahwa kamu itu siswa
teladan!”
Niken menundukkan kepala, berusaha mendengarkan
ucapan Pa Bian itu.
“Maaf, Pa..tapi tadi saya…”
“Saya tidak mau mendengar alasan apapun. Sebagai
hukuman, kamu tidak boleh ikut pelajaran saya di kelas kamu sendiri. Silakan
kamu cari jadwal saya di kelas lain. Ada pertanyaan?”
“Tidak..” Niken lemas mendengar ucapan dosennya itu.
“Oke, saya rasa itu saja. Terimakasih.”